About Me

Foto saya
Cibubur, Jakarta Timur, Indonesia

Senin, 26 Januari 2015

PUISI

NASEHAT

Genggaman tangan berada di atas sanubari.
Berayun-ayun dengan permainan hati.
Antara hitam dan putih.
Becermin dengan kemauan diri.

Sadar!! semua itu adalah teka-teki.
Yang harus kau ketahui satu demi satu, langkah demi langkah.
Sungguh, tak perlu terburu-buru.
Tak perlu takut.

Jangan tertipu dengan fatamorgana indah di dunia ini.
Bila kau tertipu, setankan menari-nari, bersorak-sorak memanggil teman sejawatnya.
Tentu tuk membodohimu lagi dengan kesenangan sementara.
Seperti halnya bidadari yang selalu dielu-elukan manusia di dunia.

Pintarlah memilih.
Berfikir jernihlah selalu.
Bukalah jendela dunia sebanyak-banyaknya!.
Cari kebenaran itu!.

Tidak hanya satu guru di dunia.
Tidak hanya satu pelajaran yang diambil dari sebuah musibah.
Rubahlah pola pikir agar menguntungkan.
Supaya bisa kau tersenyum lepas, lupa akan segala masalah dan beban hidup.


Minggu, 18 Januari 2015

NOVEL FIKSI

PENCARIAN KETERIKATAN

         Ku mencoba melupakan masa lalu dengan mencari penggantinya. Pengganti seseorang yang dulunya pernah atau bahkan sering membuatku tertawa begitu lepas. Yang mempunyai tujuan akhir akan suatu hubungan. Tentunya bukan terikat hanya dengan komitmen sementara namun komitmen seumur hidup yang tak mudah ku temukan orangnya. Namun semua itu harus ku lupakan dan memulainya lagi dari awal. Tak mudah memang, namun hidup ini membuatku mempunyai pilihan. Bertahan dengan kesengsaraan ataukah menerobos maju kedepan. HHhh.. untungnya otakku masih bisa berfikir.

"Memangnya apa yang kamu dapat dengan memilih tetap bertahan? Cihh.. menjijikan!" Segera ku singkapkan lamunan itu.

"Bukankah kau telah mengutarakan kesanggupanmu untuk tidak menitikkan air mata walau setetespun? Sungguh, tak pantas kau bersikap seperti itu! Sangat kekanak-kanakkan!" caciku pada diri sendiri.

Dengan satu helaan nafas panjang ku beranikan diri mengambil keputusan.

"Memangnya siapa juga yang mau berlarut-larut dalam kesedihan?! Hanya orang bodoh yang memilih pilihan seperti itu!"

"Baik, ku akan melupakan semuanya. Sebisa mungkin mengganggapmu tidak ada."

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kkkrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrriiiiiiiiinnnnnnnnggggggggggggg..........................

"SSSSSSSSSSSSSssssssssshhhhhhhhh"kesalku di atas tempat tidur.
"Masih pukul 03.00 pagi"

Berat rasanya untuk menggerakkan tubuh ini.

"Aaaoooouuu" ku lihat luka memar itu membekas tajam di ujung dahiku.
"Eeemmmmhh"aku meringis.

"Tak apa.. tak apa..." ku yakinkan diri.

Segera ku mandi dengan air hangat dan aroma therapy.

"Memang ini adalah cara jitu untuk menghilangkan penat."

Selesai mandi, segera ku bersiap-siap melanjutkan rutinitasku. Dan tentunya membuang semua hal yang terkait tentangnya. Ku hampiri lemari kayu itu, yang memang ku khususkan untuk menyimpan semua hal tentangnya. Tak terhitung kertas origami yang ku gunakan untuk menumpahkan semua rasa susah dan senang selama bersama dengannya. Ya selama ini yang membuat kita bertahan lama bersama adalah kertas origami ini

 dari pria yang didekatkan denganku, ia bernama Aga. Anak seorang manager di sebuah perusahaan terkenal. Kuliah di universitas ternama. Percaya atau tidak tapi yang mendekatkan ku  dengannya adalah Danah, orang yang masih ku kagumi hingga sekarang.

       Hati menolak namun kondisi cepat bertindak. Dalam rangka menghormatinya ku terpaksa berusaha dekat dengannya. Ku sama sekali tidak suka dengan Aga yang menurutku selalu merasa di atas angin , bersikap seolah-olah semua bisa ia lakukan dengan tingkatan ekonominya. Memang ia tidak menunjukannya secara langsung, namun itu terlihat sekali saat ia bercerita tentang kondisi keluarganya. Namanya langsung ku coret dari daftar fikiranku.Hhh..

         Selang beberapa hari kemudian teman satu kampus ingin memperkenalkan ku dengan temannya yang mungkin tertarik kepadaku. Ia bekerja di radio swasta belum menjadi karyawan tetap. Berwawasan luas memang namun ibadahnya kurang. Ia pun terlalu banyak bicara tak menunjukan kedewasaan. Huft, yang inipun tak sesuai dengan tipe ku.

         Saat ku pulang dari kantor, waktu maghrib tiba. Ku jalan melewati rute yang biasa ku jejaki. Sepintas ku bertatap mata dengan seorang pemuda yang berpakaian warna coklat dengan peci putih di kepalanya. Postur tubuh tinggi menjulang, berkulit putih tersenyum hangat menenangkan. Berjalan pulang kearah rumah yang berada tepat di depan mushalla Al-ikhlas. Siapakah gerangan pemuda yang soleh itu?. Dilihat dari wajahnya sepertinya ia masih lebih muda dariku. Esoknya ku bertemu pemuda itu lagi dengan berpakaian putih abu-abu. Tepat seperti yang ku duga, sangat lebih muda dari umurku ini. Sayangnya ku lebih memilih mencari yang lebih dewasa dari ku.

        Keesokan harinya ku menjalani rutinitas seperti biasa. Saat sholat dzuhur tiba ku mendengar suara adzan yang begitu merasuk di hati. Mustahil rasanya bila merasa tak terpanggil. Naluriku pun mengikutinya. Saat tiba di masjid ku lihat ia sendiri masih dengan lantunan adzan yang ia kumandangkan. Ku mengambil air wudhu dan menghayati adzan tersebut. Beda sekali rasanya. Untuk suara adzan yang ini, ia benar-benar ingin menyampaikan sebuah pesan. Pesan yang pastinya akan selalu diingatnya. Waktu sholat telah tiba tanpa menoleh ke arahnya ku pun langsung berjalan ke tempat wanita. Takut pabila penyakit hati ini kambuh lagi. Dari ku belum berhijab hingga sekarang ini ku baru melihatnya. Kebetulan saat ku masih di dalam masjid, ku kenal dengan seorang wanita yang satu tempat kerja dengannya. Iseng ku menanyakan hal tentangnya.

“Dilah, kamu kenal dengan orang itu?” tanyaku sambil menunjuknya.

“Iya dia termasuk orang yang sangat berpengaruh di kantor. Umur 25 tahun. Sering bolak-balik ke Mekkah secara ia kan yang mengatur untuk masalah pergi haji dan umrah. Bisa bahasa Arab. Sangat soleh dan penyantun” jawabnya panjang lebar.

“Kenapa? Naksir ya??” tambahnya

Ku hanya tersenyum sambil berkata dalam hati, “Emph.. boleh juga”

Hahahhah.. itu hanya sekelebat fikiran nakal ku. Tapi kalau seandainya jadi pun bahagia sekali rasanya. Tipeku sekaliii…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

          Hari silih berganti. Suara adzan yang biasa terdengar kini sudah berganti. Yang tadinya ku tak pernah mencarinya kini malah berbalik mencarinya. Ia sudah tak pernah terlihat. Ckck.. namanya pun ku tak tahu. Mau bertanya, aduuhhh maluuu.. . Akhirnya ku biarkan suara merdu itu pergi. Tak ter-elakan ku tetap merindukannya. Mungkinkah karena belum terbiasa dengan perubahan ini? entahlah..

           Ku tetap mencoba mencari dan mencari lagi. Hingga ku bertemu dengan rasa lelah di hati. Ku bergumam, “Apakah tidak ada seorang lelaki yang soleh dan benar-benar mencintai-Mu?” ucapku dengan wajah menengadah ke langit. Tak sabar ku ingin cepat-cepat mencari penggantinya. Ku ingin menata hati walau dengan sedikit keterpaksaan. Sedikit sulit bagiku tuk berpindah ke lain hati. Namun kenyataan tidak selamanya menuruti keinginan. “Ya-Rabb.. mudahkanlah ku bertemu dengan orang yang bisa membimbingku ke jalan terang-Mu. Aamiin..” sebait doa ku panjatkan Kepada-Nya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

       Sore itu entah kenapa ku benar-benar gelisah dengan niat pencarianku. Saat malam tiba ku terlelap dengan ditemani mimpi yang membuatku terus memikirkannya hingga sekarang. Mimpinya adalah ku berada di rumah dengan seorang teman lamaku, lelaki tentunya. Ku dengannya berniat pergi namun saat ku keluar gerbang sepatu kanan ku ketinggalan. Ku mengambilnya dan ku melihat dia. Ku terbangun dari tidurku. Mimpi yang aneh. Ku rasa ada sebuah pesan yang harus ku cari tahu artinya. Sontak ku langsung menghubungi pamanku yang sedikit mengerti hal tersebut. Ku ceritakanlah,

“Le, semalam saya bermimpi ketinggalan sepatu yang sebelah saat ingin bepergian dengan teman lamaku, artinya apa ya?”tanyaku kepada om ku.

“Menurut le sih itu artinya orang yang sedang kamu cari-cari itu dia orangnya. Tapi sebaiknya jangan sampai kepikiran karena kamu belum saatnya”.jawabnya.

Terkejut ku mengetahuinya. Masa sih? Masa sih? Masa sih? pertanyaan itu terus yang muncul dalam otakku. Kembali teringat dengan kenangan masa lalu yang masih unyu-unyu, saat duduk di bangku SMP. Ku tertarik dengan teman satu sekolah ku tapi berbeda kelas, Amaz namanya. Tak jauh-jauh, ku tertarik dengan ke solehannya. Ia berkacamata dan bersikap dingin. Namun di mataku terlihat kegigihan dalam menjaga pandangannya. Manis dan dewasa. Saat ku mengikuti ekskul pramuka dan ku ditunjuk tuk bepartisipasi mengisi acara di Jambore selama satu minggu, ku memesan sebuah gantungan berbentuk Ka’bah di dalamnya dan di luarnya tertulis MFR dan SDA dengan sedikit ukiran. Ya itu adalah singkatan namaku dengannya. Diluar dugaan gantungan tersebut diambil dan diberikan kepadanya tanpa sepengetahuanku. Malunya bukan main saat itu. Mau tak mau ku berpura-pura tak mengetahuinya.

          Itulah secuil kisah masa lalu ku. Masih dengan hal-hal konyol memang. Intuisiku mengatakan ku kan bersama dengannya suatu saat nanti. Ku menggeleng-gelengkan kepala dengan disertai helaan nafas, benarkah?. Ada satu hal lagi yang ku ingat, ku melukisnya hanya dengan membayangkannya. Ia memakai t-shirt warna hijau tua dengan jaket warna hitam tak ketinggalan kaca-mata yang selalu ia gunakan hingga sekarang. Ku segera membuka situs untuk mencari tahu tentangnya
.
“Amaz, punya pasangankah kamu sekarang?” gumamku sambil terus mencari.

Wah ketemu nih, ia kuliah di PNJ sudah semester 5 memakai almamater bewarna kuning terang. Daann… ups ia sudah punya pacar. Tak mungkin ku tiba-tiba menghubunginya tanpa ada hal penting yang perlu disampaikan. Akhirnya semua itu ku anggap benar-benar bunga tidurku yang hanya menjadi pengejut jantungku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

        Waktu berlalu bagai angin yang berhembus tak ku fikirkan lagi  persoalan tentang Amaz. Ku jalani hari-hari ku seperti biasa, bekerja setelah itu kuliah. Dan entah apa yang membuatku berfikir tentangnya kembali. Lihat sekarang ia ada di depan mata!. Oh shit benarkah itu dia?! Berdiri di trotoar depan kampusku, tetap dengan kaca matanya. Ku alihkan pandangan dan menggeleng-gelengkan kepala. Meyakinkan diri kalau itu hanya khayalanku saja adalah alternative yang tepat untuk saat ini. Ya.. ya.. pasti hanya khayalanku saja. Ku langkahi jalan ini menuju kampus.

"Hai Eana!"teriak temanku Que di ujung jalan sana.

"Yup sini"jawabku dengan tangan melambai-lambai.

 "Ada jadwal kamu hari ini?"imbuhku.

"Aku kuis hari ini na"jawab Que sambil mencari kisi-kisi yang minggu lalu telah diberikan dosennya.

"Hmm... begitu ya. Baiklah kalau begitu aku ke kelas dulu ya."pamitku.

"Ok."

Que adalah temanku namun berbeda kelas. Awalnya ia sama sekali tak menyukaiku entah karena apa. Namun aku berusaha bersikap biasa dan apa adanya, pelan-pelan ia mulai sreg denganku. Di kelas pukul 19.00 hanya ada beberapa mahasiswa yang hadir, tidak sepenuhnya. Wajarrr terkadang rasa lelah mengalahkan semua untuk kami yang sudah bekerja dari dari pagi hingga sore hari ini. Saat mata kuliah dimulai sedikit banyaknya ada mahasiswa kelas terbang berhambur masuk ke ruang kelas dan salah satunya ialah...

"Ups, itu aku tidak salah lihat kan?"sambil mengerjap dan melihat dengan seksama.

"Ya Allah ini serius?"ku tatap wajahnya dalam-dalam.

Sungguh tak disangka! Setahuku Amaz berkuliah di PNJ lalu mengapa ia kemari. Memang di kelas ku itu bisa di bilang overload mahasiswanya jadi terkadang dosen tidak tahu mana yang benar-benar mahasiswa kelasnya atau bukan. Dan untuk saat ini Amaz masih belum menyadari keberadaanku.

           Satu setengah jam berlalu ia masih juga belum menyadari keberadaanku. Yah mungkin karena ia duduk di paling depan dan aku paling belakang. Satu mata kuliahpun berakhir, mahasiswa kelas terbang kembali berhambur ke luar kelas. Mataku masih belum berhenti menatapnya.

"Woy jangan bengong"ejek teman sekelasku, Ura.

Aku tersentak,"Eh iya ra. Ada apa?."

"Ga ada apa-apa si hanya saja aku bingung melihatmu daritadi melamun. Apa sih yang sedang kamu lamunkan?."tanyanya penasaran.

"Emph aku memperhatikan dosennya sedari tadi. Ada masalah?.".

"Yakin?? Tapi tatapanmu bukan menuju ke dosennya, lalu siapa yang sedang kamu perhatikan hayooo?? Cerita dong sama aku."pintanya.

"Aduuhhh kamu ini kenapa sihhh. Serius deh aku daritadi memperhatikan dosennya."jawabku kukuh.

"Dosennya nih bukan pelajarannya?."

"Arrrggghhh iya maksudku pelajarannya bukan dosennya."ralatku.  

Kenapa jadi linglung gini!. Amaz, mengapa kamu datang dan pergi secepat kilat sih. Pertanyaan yang belum terjawab masih saja berkutat di kepalaku. Kamu harus siapkan jawaban yang tepat untukku nanti. Tentunya bila kita bertemu lagi. 

Dosen jam keduapun sudah datang. Segera ku buang jauh hal yang mengusikku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kringgggggg..........

"Ugh siapa sih yang malam-malam begini telfon."ku angkat telfon dan ku terpaksa menjawab.

"Halo assalammualaikum, maaf siapa ya ini?."sapaku dengan nada berat.

"Halo Eana, ini aku Ura."jawabnya tergesa-gesa.

"Ya ada apa Ura tumben malam-malam begini kamu telfon, ada hal penting ya?."tanyaku penasaran.

"Bangeeetttt....Zhax mau tampil malam ini!!."hebohnya.

"AH SERIUS??."tanpa melanjutkan pembicaraan ku berganti pakaian dan langsung menuju lokasi.

Rest Rockerz adalah tempat Zhax biasa tampil. Ruangan dengan modifikasi ruang terbuka dan tertutup di dalam, lilin yang menyala menambah suasana romantis. Dekor melingkar namun tepat di tengah lingkaran sebuah panggung besar berbentuk tulisan 'ROCK' berhimpit menyapaku bersama orang yang ada di sana. Kamu bertanya siapakah Zhax sebenarnya hingga ku rela malam-malam begini menghampirinya? hmm.. dia adalah dosenku, dosenku yang paling urakan tentunya. Selalu tidak pernah terlewatkan aksi panggung darinya. Apa katamu, aku menyukainya? aahhhh sama sekali tidak. Aku terpaksa hadir di setiap pertunjukannya karena suatu perjanjian tapi maaf aku belum bisa mengatakan perjanjian apakah itu.

Plak!!

"AWWWwwww."satu gelas aqua tak berisi air menikam kepalaku refleks ku menoleh.

"Pasti dia deh."ku sudah bisa menebak siapa yang berbuat konyol seperti itu, ya siapa lagi kalau bukan Zhax. Malu sebenarnya aku memberitahu kalian, itu adalah tanda bahwa sekarang adalah giliranku, giliranku naik ke atas panggung dan mulai bernyanyi.

Awas ya Zhax, lihat saja nanti.

Dug!!

"Arrgghhh siapa lagi sih nih?!."ku bertubrukan dengan seseorang.

"Ura?!."imbuhku.

"Aduuuhhh kamu kalau jalan liat-liat dong!."jawabnya kesal.

"Maaf..tapi aku harus segera ke atas panggung nih."ucapku tergesa-gesa dan meninggalkan Ura yang masih meringis kesakitan akibat ulahku.

Untungnya aku sampai ke atas panggung dengan selamat. Huft bagaimana tidak, aku yang biasa memakai sepatu kets sekarang harus menggunakan boots heels. Selama aku berjalan menggunakan boots heels ini serasa ada gempa bumi di sekitarku, sungguh memusingkan. Kupun berdoa agar kaki ini masih bisa dipergunakan keesokkan harinya. Ku mulai menyanyikan lagu Paramore - Misery Business ditemani Zhax sang gitaris dan teman-teman satu bandnya.

"Sepertinya pertunjukkan kita ditonton banyak orang berkat dia Zhax."tunjuk sang bassis, Barra ke arahku.

"Ya aku setuju denganmu Bar."celetuk sang drummer.

"Ahh itu hanya persepsi kalian saja. Tidak ada yang istimewa darinya sama sekali. Perhatikan.."ucapnya sambil memperhatikanku dari kepala hingga kaki."Dia pendek, kurus, tidak cantik, ceroboh, dan juga tidak pintar. Lalu apa yang bisa dipandang darinya?"tambahnya.

"Ough.. bicaramu sangat kasar."bentakku langsung berlalu.

Tidak disangka ia seorang dosen namun ucapannya seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan.BODOH!

Ku nyalakan mobil Ferrari Enzo miliku yang telah dimodifikasi.

Ya aku tahu memang dari segala arah sepertinya aku tidak mempunyai kelebihan namun tidak tahukah ia kalau aku sudah berusaha sedemikian rupa untuk tidak mempermalukannya?!. Memakai celana panjang robek-robek dengan memakai boot heels dan riasan yang terlalu mencolok itu sama sekali bukan gayaku, akupun tidak nyaman seperti ini. Tapi ku berusaha.. berusaha! Oh ya ALLAH kenapa posisiku jadi terjepit seperti ini...

Sampai di rumah belum habis rasa kesalku, sudah ada jamuan petir yang menanti.

"Dari mana saja kamu malam-malam begini?."suara berat menyeruak dari dalam kamar, ya tentu orangtuaku atau lebih tepatnya ayahku.

Agh tidak!
Hufff ku mohon jangan sekarang...

"Da..da..dari Rest Rockerz yah."jawabku sedikit takut.

"Apa keperluanmu yang membuat keluar malam-malam begini?!."bentaknya.

Ku menunduk, "Mengisi acara di Restoran tersebut yah."

Tanpa teguran tambahan, ayahkupun berlalu. Ya, memang seperti itulah ayahku, tak perlu banyak bicara





()



              





to be continue...